▴Jasa Pembuatan Website murah▴ - Spiderwoman dari Grobogan Raih Medali Emas Asian Games 2018
- Dijual Mahal, Samsung Galaxy Note 8 Lebih Laku dari Galaxy S8
- Ahli Kejiwaan Sebut Marshanda Keterlaluan
- 5 Buah Penangkal Racun dalam Tubuh
- ROBOT Kecil Cikal Bakal Transformer
- Apple iWatch Bakal Dirilis Bulan Depan
- Pentax Q-S1 Kamera Mirorless Style Retro
- Risma Akan Tolak Tawaran Jadi Menteri
- Jokowi janji mati-matian bela Palestina
- Gereja Tampung Pengungsi Muslim Palestina
Bahaya Mendiagnosis Penyakit Lewat Internet
Berita Terkait
- Makanan Penyumbang KegemukaN0
- Apakah dia mengalami Depresi? Cek Bicaranya1
- Cokelat Hitam Turunkan Tekanan Darah0
- Orang Beriman Kondisi Fisik n Mentalnya Lebih Sehat0
- 4 Alasan Kenapa Memaafkan Penting Bagi Kesehatan0
Berita Populer
- Jokowi janji mati-matian bela Palestina
- Usai China, Indonesia Tuan Rumah Miss World 2013
- Marvel Umumkan Jadwal Rilis "The Avengers 2"
- Astagfirullah, Festival Wine Digelar di Halaman Masjid
- Risma Akan Tolak Tawaran Jadi Menteri
- Makanan Penyumbang KegemukaN
- 4 Teknologi yang Bakal Bertahan Sampai 2030
- Cokelat Hitam Turunkan Tekanan Darah
- Fatima Nabil, Presenter TV Berjilbab Pertama di Mesir
- "Expendables 2" Impian Jean Claude Van Damme

Apakah Anda mengunjungi "dokter Google" lebih sering dari dokter di klinik? Anda tidak sendiri. Dalam sebuah survei tahun lalu di Amerika diketahui bahwa 35 persen responden mencocokkan gejala penyakitnya di internet dan mendiagnosis dirinya sendiri.
Masih menurut survei yang dilakukan The Pew Research Center's Internet & American Life Project itu, sekitar 41 responden mengatakan diagnosis sendiri itu ternyata dikonfirmasi kebenarannya oleh dokter.
Tetapi, sekitar satu dari tiga responden mengaku tidak pernah pergi ke dokter untuk mencari opini kedua. Malahan, 18 persen responden mengatakan bahwa upaya mendiagnosis sendiri itu ternyata salah ketika ditanyakan ke dokter.
Meski survei yang melibatkan 3.000 responden itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui siapa yang mencari informasi kesehatan secara online, tetapi para profesional medis merasa khawatir dengan tren itu.
"Rata-rata tiap orang mengunjungi empat situs lalu memutuskan ia menderita kanker dan akan segera meninggal. Padahal, di internet banyak informasi yang keliru," kata Rahul K Khare, dokter unit gawat darurat dari Northwestern Memorial Hospital.
Menurut Khare, ia sering menemukan pasien yang hidupnya menjadi penuh kecemasan karena mereka merasa menderita penyakit berat setelah mencocokkan gejala yang dirasakannya dengan informasi di internet. (sumber: kompas.com)









